Total Pageviews

Diberdayakan oleh Blogger.

Marquee Beri Donasi

<div style='background-color: none transparent;'><a href='http://news.rsspump.com/' title='rsspump'>news</a></div>
Daftar Alamat dan Nomor Telepon Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat PKM) di Kabupaten Pasaman Propinsi Sumbar: 1. Puskesmas Bonjol. Alamat: Jl. Lintas Sumatera Nagari Kp Sianok Nagari Ganggo Hilia,Kec.Bonjol. Jenis (type): Perawatan 2. Puskesmas Ladang Panjang. Alamat: Jl. Lintas Padang Sawah Kumpulan, Kec. Bonjol. Jenis (type): Perawatan 3. Puskesmas Kumpulan. Alamat: Jl. Lintas Sumatera Nagari Lima Kuto, Kec. Bonjol. Jenis (type): Non Perawatan 4. Puskesmas Simpati. Alamat: Jl. Padang Sawah Kumpulan, Kec. Bonjol. Jenis (type): Non Perawatan 5. Puskesmas Lubuk Sikaping. Alamat: Jl. Prof. Dr. Hamka, Kec. Lubuk Sikaping. Jenis (type): Non Perawatan 6. Puskesmas Sundatar. Alamat: Jl. Lintas Padang Medan Jrg Salibawan, Kec. Lubuk Sikaping. Jenis (type): Non Perawatan 7. Puskesmas Cubadak.Alamat: Jl. Raya Simpang Empat Panti, Kec. II Koto. Jenis (type): Perawatan 8. Puskesmas Simpang Tonang. Alamat: Jl. Simpang Lambau Jrg. Tanjung Mas, Kec. II Koto. Jenis (type): Non Perawatan 9. Puskesmas Tapus Alamat: Jl. Lintas Padang Medan No. 26 Ds. Selamat, Kec. Panti. Jenis (type): Perawatan 10. Puskesmas Pegang Baru.Alamat: Jl. Lintas Padang Medan Jrg Bahagia, Kec. Panti. Jenis (type): Non Perawatan 11. Puskesmas Kuamang.Alamat: Jl. Tapus Lundar Jrg Kuamang, Kec. Panti. Jenis (type): Non Perawatan 12. Puskesmas Rao.Alamat: Jl. Lintas Padang Medan Pasar Rao Nagari Tarung-tarung, Kec. Rao. Jenis (type): Perawatan 13. Puskesmas Pintu Padang.Alamat: Jl. Curanting Muaro Tais Km. 18 Ds. Pintu Padang, Kec. Mapat Tunggul. Jenis (type): Perawatan 14. Puskesmas Silayang.Alamat: Nagari Silayang, Kec. Mapat Tunggul Selatan. Jenis (type): Non Perawatan 15. Puskesmas Lansat Kadap. Alamat: Jl. Tunas Harapan Rambah, Kec. Rao Selatan. Jenis (type): Non Perawatan

Komunitas Orang Mentawai


Sabtu, 18 Februari 2012

 

Duakotopas (Mentawai) – Mengunjungi suku asli Mentawai yang tinggal jauh di kedalaman hutan Siberut Selatan, tepatnya di daerah bernama Bekkeiluk dan Desa Salapa. Kunjungan ini difasilitasi oleh Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI), Jambi dan Yayasan Citra Mandiri (YCM), Padang. Orang Rimba akan bertukar pengalaman dan belajar tentang nilai-nilai kearifan adat budaya Orang Mentawai, begitu juga sebaliknya. Sehingga pengalaman langka ini bisa menjadi inspirasi bagi kedua suku untuk saling menguatkan dan mendukung satu dengan lainnya. Mereka diharapkan tidak perlu merasa rendah diri lagi hanya karena berasal dari suku yang sama sekali berbeda dan tinggal jauh di kedalaman hutan.

”Mari Bepak (bapak), silahkan naik!” ujar Muhammad Rafi’i Rangkuti salah seorang fasilitator Orang Rimba dari KKI Warsi ketika melihat Marituha, Pengusai dan Ejam agak ragu naik ke kapal.
Selain Rafi’i, empat Orang Rimba itu juga didampingi Fasilitator Pendidikan, Agustina Siahaan, Fasilitator Kesehatan, Sutardi Diharjo, Staf GIS, Ade Chandra dan Staf Communication Specialist KKI Warsi, Musfarayani. Kami dan empat Orang Rimba yang kami didampingi, juga dipandu oleh Staf Antropolog dari YCM, Tarida Hernawati.

Hanya Temenggung Tarib yang tampak antusias melihat kapal Sumber Rejeki Baru yang akan membawa perjalanan kami. Sementara tiga Orang Rimba lainnya masih agak gelisah. Maklumlah selama ini mereka belum pernah melihat dermaga dan laut kelam yang luas terbentang di depan mata. Memang dunia yang mereka kenal selama ini hanya area hutan seluas 60.500 ha dan desa sekitarnya. Melihat sungai memang bukan hal aneh tapi lautan luas belum sama sekali. Mereka juga tidak pernah pergi keluar rimba hingga lebih dari seminggu. Sementara Temenggung Tarib sudah empat kali ini pergi jauh dari rimba. Dia pernah menerima penghargaan Kehati Award tahun 2000 di Jakarta atau ke forum-forum suku asli dengan difasilitasi KKI Warsi.

”Saya sudah pernah naik burung besi (pesawat terbang) waktu ke Jakarta dulu. Saya juga pernah naik kapal laut waktu ikut forum suku asli di Jakarta bersama Temenggung Nggrip,” ujarnya dengan riang sambil tidak henti-hentinya menyemburkan asap rokok kretek kegemarannya.
Kapal berlantai dua ini begitu padat penumpang dan barang. Di lantai bawah saja para penumpang berebutan mencari posisi enak untuk berbaring meski saling berjejal. Disekelilingnya berbagai macam ukuran tas, kotak-kota besar dan berkarung-karung aneka sayuran bahkan ayam-ayam dalam kurungan, tergeletak tidak beraturan di sekitar sana.

”Aduh, maaf sekali. Ternyata kita terlambat dapat kamar,” ujar Tarida yang dua tahunan ini menjadi Fasilitator dan Antropolog untuk Suku Mentawai di pedalaman. ”Enggak biasanya penumpang sebanyak ini di hari Senin. Mungkin karena banyak anak muda Mentawai yang habis ikut tes CPNS kemarin di Padang sehingga membludak gini. Jadi, kita tidurnya emperan saja di lorong. Sementara bapak-bapak dari Rimba bisa di kamar yang disediakan kawan kami.”

Kami memang perlu menyamankan istirahat kawan-kawan dari Rimba ini. Karena mereka jelas tidak terbiasa dengan perjalanan laut. Bahkan perjalanan darat dengan mobil pun mereka suka ”mabuk” dan muntah. Kami pun harus menyewa mobil travel khusus untuk Orang Rimba dari Jambi menuju Padang untuk ke Mentawai, sehingga mobil bisa diberhentikan kapan pun mereka akan muntah. Maklumlah mereka terbiasa kehidupan alam terbuka yang segar dan biasa berjalan kaki dibandingkan naik kendaraan. Maka obat anti mabuk pun harus diberikan. Tapi itu tidak membuat mereka langsung mengantuk. Mereka justru ingin menikmati aroma laut di dek belakang sesaat setelah kapal lepas dari dermaga Muara, dan melihat dari kejauhan lampu-lampu rumah di pinggiran muara yang tinggal kerlap-kerlip.

Kekhawatiran akan cuaca buruk dan badai sirna seketika begitu melihat lautan kelam tampak tenang. Rintik hujan yang tadi begitu centil menerpa tidak lama kemudian hilang. Marituha dan Ejam tidak henti-hentinya berdecak kagum. Sementara Pengusai yang pendiam hanya tersenyum samar mendengar ocehan Ejam yang kini mulai terlihat ceria. Mereka begitu takjub dan heran ketika kapal yang mereka naiki perlahan menjauhi daratan dermaga kemudian berlahan menghilang sama sekali lalu yang terlihat hanya lautan luas terbentang dan kerlap-kerlip lampu dari perahu-perahu nelayan di kejauhan.
Para Fasilitator KKI Warsi pun membantu mereka memberikan penjelasan dengan menggunakan bahasa Rimba sehingga cukup menjadi perhatian bagi sebagian besar penumpang yang kebanyakan Orang Mentawai itu. Marituha misalnya, mengaku belum pernah melihat laut terbentang begitu luas hingga daratan tidak terlihat satu pun. Membuat kami yang mendengarnya tertawa. Tarida baru ikut tertawa lebar ketika dijelaskan oleh Agustina.

Ketakjuban mereka semakin besar ketika pagi harinya mereka melihat dengan jelas keindahan pantai di Pulau Siberut saat kapal mulai merapat di Dermaga Desa Meilepet Kecamatan Siberut Selatan. Air laut jernih yang keperakan diterpa mentari pagi, pulau-pulau hijau yang terlihat dikejauhan, pohon bakau yang menutupi sebagian pantai, dan udara paginya yang segar.

”Beik halom Mentawai Moma,”
(Sungguh bagus alam Mentawai ini), ujar Temenggung Tarib dengan decak kekaguman sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah sehari semalam istirahat. esoknya perjalanan menuju Bekkeiluk pun dilakukan dengan menggunakan perahu motor. Tentu saja ini jadi perjalanan menakjubkan tersendiri bagi Orang Rimba tidak terkecuali bagi para Staf KKI Warsi yang juga baru pertama kali melihat pemandangan indah pantai Mentawai. Rasanya tidak percaya jika pulau dan pantai di sana kini tengah mengalami ”serangan” perusahan-perusahaan yang merusak keindahannya secara perlahan atas nama investasi. Hal ini sempat dijelaskan oleh Selester Sageruwjuw (tokoh masyarakat suku asli Mentawai) sebelumya, yang juga ikut memandu perjalanan ini. Karena itu pula, jelas Selester, kini suku asli Mentawai merapatkan barisan dan berjuang untuk melindungi dan mempertahankan kelestarian hutan ulayat, perkebunan sagu dan kekayaan sumber daya alam` lainnya yang dikelola dengan nilai-nilai kearifan adat yang mereka miliki. Apalagi kini ancaman itu sudah mendekati hutan yang mereka miliki.

Dibutuhkan waktu empat jam menyusuri Sungai Silaoinan yang mempunyai kelok-kelok tajam guna mencapai batas Bekkeiluk. Di sana, kami telah disambut beberapa Orang Mentawai yang memang telah menanti. Mereka membantu membawa barang-barang dan bekal makanan kami. Rupanya, untuk sampai ke Bekkeiluk harus disambung lagi dengan berjalan kaki selama satu jam, dengan kondisi jalan yang berlumpur dalam. Sepatu atau sendal gunung semahal apa pun tidak ada artinya sama sekali. Karena akan lebih mudah jika berjalan dengan bertelanjang kaki. Maka siap-siaplah kaki terkena duri, akar kayu, atau batu. Lebih dari itu siap-siaplah untuk mandi lumpur.

”Cpraatt!!” seorang dari kami jatuh. Yah, perjalanan ini cukup berat. Bahkan kondisi tersebut juga diakui Orang Rimba sebagai jalan yang cukup berat untuk dilewati. Ini jelas sangat berbeda dengan kondisi jalan hutan TNBD tempat tinggal Orang Rimba. Maklumlah, hutan di Mentawai rata-rata adalah tipe hutan rawa, air tawar, mangrove, dan komunitas sagu.
”Awak (saya) kalau dikasih bidadari sekalipun di sini, awak hopi (tidak) mau tinggal di sini,” tandas Temengggung Tarib yang langsung disambut tawa oleh kawan-kawannya dan staf Warsi yang ada didekatnya.

Pertemuan Dua Suku
Ternyata seperti halnya Orang Rimba, Suku asli Mentawai juga masih ada yang memilih tinggal di tengah belantara hutan. Ini jelas berbeda dengan Dusun Salapa yang sedang mengalami transisi ke kehidupan yang lebih maju. Kami memang sempat mengunjungi Salapa setelah dari Bekkeiluk. Program pemerintah Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing (PKMT) telah mewarnai struktur keruangan dan bangunan masyarakat di Salapa. Di sana, rumahnya telah beratap seng bahkan sudah ada masyarakat pendatangnya yaitu Nias dan Padang. Sementara di Bekkeiluk yang tampak justru rumah-rumah panggung (sapo) beratap daun sagu yang dianyam rotan (mandorouk) dinamakan toba. Namun rumah-rumah ini jelas lebih kokoh dari yang dimiliki Orang Rimba yang sangat sederhana. Orang-orang Bekeiluk juga kebanyakan sudah mengenakan baju dan celana lengkap. Termasuk anak-anak dan perempuan. Hanya beberapa laki-laki yang masih menggunakan kabbit (semacam cawat) serta tubuhnya dibubuhi tato yang penuh garis horisontal disepanjang paha, dan gambar-gambar bunga/tumbuhan atau hewan yang ada di sekitar pundak depan atau diperut. Beberapa diantaranya juga masih berambut panjang yang diikat ke belakang dengan tali kain merah.

Serunya lagi banyak babi-babi gemuk berlumpur dan anjing berkeliaran dengan bebas. Temenggung Tarib dan kawan-kawannya cukup terkejut ketika mendengar bahwa babi-babi tersebut adalah dipelihara (diternak). Kandang babinya tepat di bawah rumah panggung. Babi adalah makanan kegemaran Orang Rimba tapi mereka tidak memeliharanya melainkan diburu kemudian dimakan. Tidak jauh dari rumah Orang Mentawai juga dikelilingi sungai kecil yang berair jernih. Sehingga air itulah yang langsung kami serbu untuk membersihkan kaki dan celana kami yang terlumuri lumpur kental.
”Anai leu ita!”

sapa beberapa masyarakat setempat dengan ramah. Ida dan Selester menjawab dengan kalimat yang kedengarannya nyaris sama. ”Itu artinya apa kabar,” jelas Selester menjawab kebingungan kami. Kami pun jadi banyak bertanya kalimat yang akan sering digunakan, terutama sekali mengucapkan terimakasih dalam bahasa Mentawai. ”Oh, itu. Cukup bilang Matsura bagata,” jawab Ida. Kami langsung menghapal dua kalimat penting itu. Kata sapa dan terimakasih biasanya membuka simpul komunikasi yang disebabkan beda bahasa.

Rombongan langsung disambut sejumlah warga Bekkeiluk termasuk Kepala Adat (Sikebbukat Uma), Teu Saibit yang langsung membawa tamunya ke sebuah rumah panggung paling besar dari lainnya yang disebut dengan Uma. Di tempat inilah segala upacara dilakukan dan juga kepala adat serta keluarga intinya tinggal. Di teras rumah Uma ada sangkar-sangkar kecil dari rotan bergelantungan yang berisi induk ayam dan anaknya. Ini tentu saja mengherankan Orang Rimba karena dalam adat mereka terlarang makan ayam atau makan hewan yang jadi peliharaan.
”Kasihan, sudah dipelihara lalu disembelih untuk dimakan. Jadi pantang bagi kami memakan makanan yang diternak,” jelas Temenggung Tarib.

Untuk naik ke Uma harus hati-hati karena menggunakan tangga kecil dari batang kayu (lokkot). Jika terpeleset maka bisa dipastikan anda akan mandi lumpur dan bisa jadi diseruduk babi-babi montok berlumpur yang tinggal dan berkeliaran di bawah uma tersebut. Uma ini cukup besar dan terbuka lebar dan tanpa pintu. Tidak ada kamar sama sekali. Ruangan hanya terdiri dari teras pertama tempat dimana ayam-ayam berkeliaran mematuk batang sagu. Teras kedua, pada sisi kanan dan kiri ada bangku kayu untuk menerima tamu, di satu sisi juga ada tempat khusus memasak babi dan dua wajan besar. Lalu ada ruang utama yang digunakan untuk menjamu tamu dan tempat segala rapat dan upacara adat digelar. Terakhir adalah ruang belakang yang disekat dengan kayu-kayu sehingga memisahkan ruang utama. Di sana juga pada sisi kanan dan kiri dijadikan sebagai tempat untuk tidur yang dilengkapi kelambu-kelambu yang telah lusuh. Tempat ini juga menyatu dengan tempat para perempuan Mentawai memasakkan jamuan untuk para tamunya dengan menggunakan kayu bakar.

Yang unik dari uma ini adalah banyaknya tengkorak binatang terpajang di dekat atap pintu masuk teras tamu dan ruang utama serta ada anyam-anyaman kering yang terpintal panjang. Tengkorak yang digantung pada sisi atas pintu masuk adalah tengkorak babi peliharaan. Banyaknya tengkorak babi itu menandakan jumlah pesta yang telah digelar di uma tersebut. Sementara tengkorak yang digantung di dekat sisi atas pintu ruang utama adalah tengkorak hasil buruan yang dimaksudkan agar penunggu uma senantiasa mendapatkan rezeki.

Malam di uma, diiringi suara sengau babi-babi di bawah uma, dan anjing-anjing yang berkeliaran bebas di dalam uma yang kadang terpaksa ditendang oleh Teu Saibit maupun cucunya, ketika ikut nimbrung disekeliling kami atau ketika kami akan makan hingga, terkaing-kaing. Tapi anjing-anjing itu sepertinya sudah masuk dalam keluarga besar uma tersebut. Bebasnya hewan-hewan ini tanpa jarak dengan manusia membuat Sutardi, Fasilitator Kesehatan KKI Warsi berujar bahwa situasi ini mengingatkannya pada film dr. Doolittle. Bahkan suatu siang kami mendapatkan itik-itik ikut berkeliaran di dalam uma dan semuanya menganggap sebagai sesuatu yang biasa.

Orang Mentawai begitu sangat menghormati tamu. Dalam satu kebiasaan mereka, para tamu dibiarkan makan terlebih dahulu. Begitu para tamu selesai makan baru kemudian pihak tuan rumah dalam hal ini Teu Saibit dan keluarganya serta tetangga yang ikut nimbrung di uma makan bersama-sama. Setelah itu kami kembali berkumpul dan duduk santai di bangku panjang bersangga kayu di dua sisi teras. Orang Rimba, Rafi’i dan Agustina sibuk menterjemahkan setiap kalimat yang keluar dari Orang Rimba. Dan Selester sibuk menterjemahkannya lagi kepada Teu Saibit dan kawan-kawannya. Namun Bahasa Orang Rimba sebenarnya sangat mudah dimengerti karena masih ada sentuhan Bahasa Melayunya. Sehingga kawula muda Mentawai dan Teu Saibit sendiri pun bisa mencernanya dengan baik.
Keakraban dua suku baru terasa ketika Teu Saibit, tetangga dan keluarganya tahu bahwa tamu mereka adalah pemimpin-pemimpin dari suku asli yang sangat jauh di seberang lautan. Teu Saibit pun langsung beranjak kemudian duduk disamping Temenggung Tarib. Dia mengulangi penyambutan sebelumnya. Kali ini tidak hanya dengan berjabat tangan tetapi juga dengan berpelukan erat sebagai tanda persahabatan. Tentu saja adegan ini menimbulkan rasa keharuan tersendiri.

Tidak lama pecahlah segala tawa, canda dan tepukan pundak bersahabat diantara kedua suku tersebut ketika mereka satu sama lain menceritakan adat dan budayanya masing-masing. Diantara asap rokok kretek yang mereka semburkan, kedua suku ini begitu seru saling bercerita tentang adat dan budaya keseharian mereka. Terkadang mereka harus menjelaskannya dengan perilaku unik dan lincah sekadar memberikan gambaran yang jelas dari yang tengah mereka ceritakan.

”Kami Orang Rimba samo becawat mumpa Orang Mentawai kini hopi becawat ngoli kami turun ke dusun sebab malu samo orang dusun. Tapi apo sekalian di rimba kami tetap terui becawat,”
(Kami orang Rimba juga bercawat seperti orang Mentawai. Sekarang tidak bercawat karena kami turun ke desa dan malu sama orang desa. Tapi kalau lagi di hutan kami tetap terus bercawat), demikian jelas Temenggung Tarib.

Teu
Saibit pun mengungkapkan bahwa hal yang sama juga dilakukan mereka. Namun diakui bahwa kini tidak banyak Orang Mentawai memakai cawat (Kabbit bagi Orang Mentawai) terutama di kalangan mudanya. Namun ditambahkan Selester bahwa perubahan sama sekali tidak bisa dihindari dan zaman anak muda sekarang sudah sangat berbeda dengan masa mereka dulu. Terpenting, tandas Selester, adalah menanamkan nilai-nilai kearifan adat dan budaya Orang Rimba kepada kawula mudanya.
”Kami menggunakan kabbit yang dibuat dari kulit kayu baikko untuk dukun (sikkerei – semacam dukun Mentawai yang bisa mengobati orang sakit). Kabbit ini khusus diwarnai dengan getah kulit bakao sehingga kelihatan berwarna merah, sedangkan yang bukan dukun tidak diberi warna,” jelas Teu Saibit yang diterjermahkan oleh Julianus warga setempat yang juga guru bagi anak-anak Bekeilok.
Teu
Saibit bahkan mempersilahkan Temenggung Tarib dan kawan-kawannya untuk memegang kabbit yang dia pakai. ”O..o..au-au...sangat baik nio,” (Oh ya, ya, sangat bagus ini),” decak kagum Temenggung Tarib. ”Kami jugo sobonornye dahulu juga mengenako cawot dari kulit kayu yoya kayu Terab namonye. Namun semenjak mengenal koin kini lah ditinggalko,” (Kami juga sebenarnya menggunakan cawat dari kulit kayu. Kulit kayu Terab namanya. Tapi sejak kenal kain, sekarang ditinggalkan). Lalu Temenggung Tarib dan kawan-kawannya memperlihatkan bagaimana Orang Rimba menggunakan cawat. Membuat anak-anak kecil yang ada di sana tertawa cekikikan melihatnya
Bersagu dan Bernilam

Esoknya Orang Rimba diajak untuk melihat cara Orang Mentawai mengambil sagu. Kali ini Temenggung Tarib, Temenggung Marituha dan Ejam bertelanjang dada dan hanya memakai cawat saja dan ini membuat kedua suku semakin akrab. Sementara Mentik Pengusai yang kalem memilih memakai celana panjang yang tanggung. Orang Rimba ikut membantu Orang Mentawai mengambil sagu, memotong, memarut hingga menggilas sagu untuk mendapatkan tepung atau sari sagu. Orang Mentawai umumnya memang mengkonsumsi sagu. Kadang sagu yang telah jadi tersebut dicampur dengan oseng kelapa dan gula lalu dibungkus daun sagu kemudian dipanggang dengan kayu bakar hingga mengeras. Sagu itu kemudian dikonsumsi seperti halnya kita mengkonsumsi nasi dengan lauk pauknya.

Di tiap rumah tangga Mentawai mempunyai ladang sagu sendiri yang ditandai dengan tanaman kayu Irip sebagai pembatas antar ladang mereka Seperti halnya pohon kelapa tidak ada yang tidak terbuang dari sebuah pohon sagu. Daunnya untuk atap rumah, isi batangnya untuk makanan babi dan ayam dan sagu hasil saringan digunakan sebagai kudapan Orang Mentawai, kulit batangnya dijadikan untuk kayu bakar. Sementara akarnya digunakan untuk obat sakit perut dan pelepahnya digunakan untuk kayu timba (dedeibu), buahnya yang masak juga bisa dimakan. Bahkan ulat yang ada di batang sagu juga bisa menjadi santapan enak Orang Mentawai yang bisa dimakan mentah-mentah selagi ulat menggeliat atau di sup dan di sate. Kami dan Orang Rimba sempat melihat Orang Mentawai di Salapa, baik anak-anak hingga perempuan melahap ulat-ulat menggeliat itu dengan nikmatnya. Seolah mereka sedang memakan udang segar. Namun tidak ada satu pun dari kami maupun Orang Rimba kecuali Rafi’i dan Agustina yang mau mencobanya. Bahkan Ejam tampak berusaha tidak muntah ketika salah satu kawan Mentawainya meledeknya dengan makan ulat itu hidup-hidup. Sehingga mengundang tawa orang yang melihatnya. Ulat sagu itu sendiri, jelas Selester,, sebenarnya mempunyai nilai protein yang tinggi dan sehat untuk dikonsumsi.

Orang Rimba juga diajak Orang Mentawai di Bekkeiluk untuk bertanam nilam dan melakukan penyulingannya sendiri sehingga menghasilkan minyak nilam yang sebelumnya tidak begitu dikenal sama sekali oleh Orang Rimba. Melihat hal ini empat Orang Rimba ini kemudian banyak bertanya tentang membudidayakan nilam. Temenggung Tarib berencana untuk membudidayakannya di dekat kebunnya di Air Hitam sana.
Curhatnya dua suku

Malam menjelang (hari terakhir di Bekeiluk). Hampir semua Orang Mentawai yang masuk wilayah Bekkeiluk berdatangan ke uma Teu Saibit dan berkumpul melingkar di ruang utama. Hingga akhirnya mereka berdiskusi dan bertukar pikiran dengan serius tentang masalah yang mereka hadapi terutama dalam mempertahankan hutan tempat dan kehidupan mereka.

Ejam misalnya menceritakan, sebagai orang muda Rimba dia sering melihat Orang Rimba ”dikerjai” dan ditipu orang dari luar. Mereka disuruh menandatangani sesuatu di sebuah kertas dan memberikan cap jempolnya tanpa tahu isi dari surat tersebut karena tidak bisa membaca sama sekali.
“Kami orang Bukit Duabelas, yang muda-muda, pikiran kami pada pendidikan. Kami ingin masuk pendidikan (sekolah). Karena yang tua-tua tidak pada sekolah karena pikirannya tidak pada sampai situ. Banyak kejadian surat-surat (dari luar) kepada bapak –bapak (orang tua) kami untuk menahan hutan. Mereka minta bapak-bapak kami menaruh tanda jempol di surat. Ternyata surat jempolnya itu surat restu hingga mereka bisa mengambil kayu. Makanya kami orang muda sekolah. Biar kami tahu tujuan surat itu. Kalau kami tahu surat itu jahat, kami tolak. Maka (nya) kami mau sekolah. Kami sekolah juga supaya tahu hitungan dan tidak ditipu. Apalagi kami juga jual rotan, jual getah, dan damar.
Teu
Saibit lewat Selester juga menjelaskan bahwa apa yang dihadapi Orang Rimba saat ini sama saja dengan yang dihadapi Orang Mentawai. Selain adat budaya mereka yang arif mulai ditinggalkan anak-anak mudanya juga masalah hutan tempat hidup dan kehidupan mereka juga mulai terancam. Namun yang jelas di Mentawai tidak diizinkan bagi siapa pun untuk mengganggu hutan ulayat mereka. Jangankan orang luar, Orang Mentawai pun tidak bisa sembarangan jika tidak ada izin dari yang punya karena akan ada denda. Ditambahkan pula bahwa saat ini Orang Mentawai juga menganggap bahwa sekolah bagi anak-anak muda Mentawai itu sangat penting.

“Di Rimba tidak semua kelompok Orang Rimba mau menerima pendidikan. Karena menurut mereka melawan adat,” jelas Agustina. “Perlu pendekatan tersendiri untuk memberi pengertian. Hanya memang car bersekolah tidak pada umumnya sekolah formal. Kami belajar di alam terbuka tanpa kelas, tanpa seragam, dan yang dipelajari hanya baca, tulis dan berhitung,” tambahnya.

Curhatan semacam ini juga terjadi di Salapa. Masalah yang sama mereka bicarakan. Di Rimba misalnya, Temenggung Tarib menceritakan bahwa saat ini mereka sangat kesulitan untuk mencari rotan bahkan ramuan untuk obat. Karena hutan mereka kini dirambah oleh para pembalak liar dari dusun. Orang Rimba sendiri tidak mempunyai kekuatan untuk melawanya.

“Kita sebenarnya sama Pak,” tambah Selester. “Sama-sama miskin, sama menderita, sama ditekan. Kita memang harus cari jalan keluar untuk keutuhan suku kita sendiri. Kita harus berjuang sekeras tenaga biar tidak lagi diganggu siapa pun dari luar.”

Dari curhat inilah, keakraban dua suku ini semakin terasa. Bahwa mereka sesungguhnya dua suku yang seperjuangan. Sehingga tidak terasa kehangatan dan keriangan kembali mengalir. Bahkan Teu Saibit meminta Temenggung Tarib dan kawan-kawannya menunjukkan sesuatu yang bisa menghibur mereka, misalnya tari atau nyanyian khas Orang Rimba. Lalu diputuskannyalah Ejam untuk memperlihatkan nyanyian Orang Rimba saat menomboy (semacam nyanyian yang menceritakan tentang proses pengambilan madu di pohon Sialang). Menurut Sutardi yang pernah melihat prosesi pengambilan madu ala Orang Rimba ini, Ejam adalah termasuk Orang Rimba yang sangat cakap dan gesit dalam melakukan proses tersebut. Padahal pohon Sialang tingginya bisa sampai 20 meteran dan perlu kekuatan tubuh tinggi ketika harus disengat lebah-lebah hutan.

Teu
Saibit pun akhirnya memberikan penghormatan kepada tamunya dengan melantunkan “tembang” yang sesungguhnya adalah do’a suci dalam sebuah prosesi upacara adat. Do’a yang dilantunkan dengan intonasi nada-nada aneh membuat merinding segenap orang yang hadir dan mendengarkan. Kadang melengking tinggi kemudian tiba-tiba sangat rendah dan halus. Itu semua dilafalkan dalam satu nafas. Luar biasa! Kami semua sampai terkesima (tidak ngiler, yah). Sungguh terasakan nilai bathinnya. Tidak terbayangkan jika lantunan tadi dilakukan dalam kondisi upacara adat yang formal ala Orang Mentawai. Pasti fantastis!
“Adakah makna dari do’a tersebut?” Tanya Rafi’i kepada Selester setelah do’a tersebut selesai dilagukan oleh Teu Saibit yang juga berperan sebagai Sikkerei (dukun yang mengobati orang sakit). Dijelaskan oleh Selester dan Ida bahwa do’a tersebut biasa dilafalkan untuk sebuah upacara adat atau pemanggilan roh-roh suci untuk berkumpul dalam cawan persembahan. Do’a itu sesungguhnya tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena bila terjadi kesalahan akan berbalik mengancam keselamatan jiwa Sikkerei.

“Sebenarnya doa-doa tadi tidak bisa dikeluarkan jika tidak ada upacara atau kepentingannya. Tapi ini istimewa, Teu Saibit ingin sekali menghormati tamunya. Kalian sudah dianggap lebih dari sahabat,” jelas Ida. Membuat kami terharu karena telah dianggap lebih dari sahabat.

Namun kebersamaan selama empat hari itu akhirnya harus berakhir. Tapi persahabatan antara dua Orang Rimba dan Mentawai kini sudah terpatri dalam sejarah suku mereka masing-masing. Setidaknya sekarang mereka tahu, bahwa mereka tidak sendiri.



Postkan Komentar:

Latest Update